NZ-NESIA Edisi 1

nzNESIA_cover

Halo Aucklanders!

Mulai Februari ini, PPI Auckland menerbitkan buletin bulanan bertajuk NZ-NESIA yang menyajikan beragam informasi untuk kamu! NZ-NESIA Edisi 1 merangkum beberapa informasi tentang Auckland Indonesia Festival, event-event di Auckland, kegiatan PPIA, dan kabar dari PPI lain di Selandia Baru. Selengkapnya bisa langsung kamu unduh di sini. Cheers!

New Zealand untuk Nunbaun

PPI Canterbury bekerjasama dengan PPI NZ, PPI Auckland, Aksi untuk NTT, dan E-Indonesia saat ini menjalankan project untuk membangun perpustakaan di SMPN 2 Fatuleu Tengah, Desa Nunbaun, Kab. Kupang, NTT. Sekolah ini merupakan sekolah cabang dari sekolah induk yang berjarak 13 KM dari pusat pemerintahan desa Nonbaun. Kondisi sekolah ini sangat sederhana (atap daun, dinding bebak, dan lantai tanah) dan minim bahan bacaan. Yuk ikut berpartisipasi membangun generasi terdidik di Nunbaun!

Bantuan yang diberikan dapat dalam bentuk dana, buku, peralatan sekolah, baju bekas (untuk kemudian di jual), atau rak buku untuk perpustakaan. Target buku yang ingin kami kumpulkan untuk perpustakaan adalah sebanyak 1000 buku, saat ini kami sudah mengumpulkan 200 buku pelajaran SMP dan 200 buku bacaan Bahasa Inggris.

Untuk berdonasi, kamu dapat melakukan transfer ke:

[NEW ZEALAND] 
ANZ Bank
06-0665-0358648-00
Alivia Alfiarty

[INDONESIA]
Dana:
Transfer ke
Bank tujuan: Bank Rakyat Indonesia
Cabang Unit Sartika Alor
No Rek. 3598-01-022994-53-2
a.n Nofriana Florida Djami Raga

Barang (Buku, pakaian, peralatan sekolah):
Kirim ke
Kantor BPS Provinsi NTT,
Jl. R Suprapto No. 5, Kota Kupang, NTT, 85111.
a.n. Nofriana Djami Raga

Mohon memberikan konfirmasi pengiriman donasi melalui email ke:
ppi.canterbury.45@gmail.com

“Triactus Scolasticus”: Sepenggal Gagasan Utopis untuk Indonesia

Looking Back to Move Forward” adalah tema diskusi terbuka yang diselenggarakan oleh pasangan seniman Irwan Ahmett dan Tita Salina pada Kamis (26/5/16). Acara ini merupakan bagian dari serangkaian program fellowship ST PAUL St Gallery, AUT University, untuk Irwan dan Tita yang diadakan dari 22 April hingga 27 Mei 2016.

Dalam diskusi terbuka tersebut, tiga pembicara diundang sebagai presenter. Dua pembicara pertama adalah pelaku seni yang pernah terlibat di dalam aktivitas dengan ST PAUL St Gallery. Berbekal latar belakang etnis yang berbeda, dalam presentasinya, mereka berbagi pandangan dan pengalaman mengenai globalisasi dan konsep kosmopolis.

Tidak mau kalah dengan yang sebelumnya, perwakilan dari PPI Auckland juga berkesempatan menjadi presenter ketiga, lho. Digawangi oleh Wayan, Egi, Ghifar, dan Zita, kami hadir untuk menyuarakan hasil pemikiran dan konsep proyek seni kami: “Triactus Scolasticus” dan “Phosaic”. Kedua materi tersebut merupakan buah dari workshop yang diadakan PPI Auckland bersama Irwan dan Tita sebelumnya.

 

“Triactus Scolasticus”

Workshop yang diadakan pada Kamis (13/5/16) dua pekan sebelumnya tersebut bertemakan social creativity dan berjudul “The Art of Making a Change”. Dalam workshop tersebut, diskusi dimulai dengan membahas berbagai tantangan yang dihadapi oleh kota Auckland saat ini, dan kaitannya dengan globalisasi. Kami dan beberapa peserta lain ditantang untuk membangun sebuah konsep pemikiran, yang diharapkan akan berujung kepada cita-cita utopis bangsa Indonesia di masa depan. Tidak hanya sampai disitu, ide-ide tersebut juga kemudian diharapkan dapat diekspresikan dalam sebuah proyek seni.

ts1

Anggota PPI Auckland bersama Irwan Ahmett dan Tita Salina di dalam workshop ”The Art of Making Social Change”, 13 Mei 2016 di ST PAUL St Gallery, AUT University (foto: Ary Novianto)

Berangkat dari gagasan tersebut, kami sepakat untuk mengangkat topik yang berkaitan dengan globalisasi. Kami sadar bahwa globalisasi mengeliminasi batasan dalam berinteraksi secara global, serta menambah luas kanal informasi dan pengetahuan. Namun di sisi lain, globalisasi tanpa disadari juga menyuburkan perilaku konsumerisme, yang mengakibatkan semakin terpojoknya kelas pekerja. Oleh karena itu, sebuah prinsip yang teguh sepantasnya diperlukan bagi kita sebagai “agent of changes”, demi membawa perubahan yang lebih baik bagi tanah air.

Setelah proses brainstorming selama beberapa malam, perwakilan PPI Auckland kemudian menghasilkan tiga butir prinsip yang dinamakan “Triactus Scolasticus.” Slogan tersebut diadopsi dari Bahasa Sansekerta dan Latin. “Tri” berarti tiga, sedangkan “actus” adalah aksi. “Scolasticus” sendiri berarti pelajar. Penggabungan menjadi “Triactus Scolasticus” berarti “tiga aksi (dari) pelajar.” Selain itu, “triactus” dapat dipecah menjadi “tri” “act” dan “us”, atau “three ACTions from us.” Ketiga butir pemikiran itu adalah:

  1. Setiap individu memiliki kemampuan dan kesempatan yang sama dengan individu lainnya (Every individual possesses the capability and opportunity to achieve greatness)
  2. Keragaman yang dimiliki setiap individu menjadi pelengkap bagi individu lainnya untuk mencapai tujuan bersama (Common goal is accomplished by harnessing every individual uniqueness)
  3. Perubahan kecil yang dilakukan setiap individu dapat berdampak dalam skala yang tak terbatas (Small actions trigger changes on an infinite scale)

Ketiga butir prinsip tersebut adalah kristalisasi pemikiran kami sebagai bagian dari generasi penerus bangsa dalam era globalisasi. Ketiga pemikiran ini menjadi prinsip kunci yang diharapkan dapat ditanamkan dalam diri setiap insan Indonesia di mana pun mereka berada, kapan pun zamannya.

ts2

Representatif PPI Auckland ketika mempresentasikan “Triactus Scolasticus” dalam diskusi terbuka “Looking Back to Move Forward”, 26 Mei 2016 di ST PAUL St Gallery, AUT (foto: Lavinia Disa)

ts3

Representatif PPI Auckland dan kertas berisi coretan konsep “Triactus Scolasticus”. Dari kiri ke kanan: Ghifar, Wayan, Egi, Zita. (foto: Rara Sekar Larasati)

 

“Phosaic”

Sebagai manifestasi dari “Triactus Scolasticus”, kami juga merancang sebuah proyek seni yang kami sebut sebut “Phosaic”. “Phosaic” adalah gabungan dari kata “Phone” dan “Mosaic.” “Phosaic” kami rancang dalam bentuk sebuah playshop (bukan workshop, karena dasar dari kegiatan ini adalah fun). “Phosaic” di”main”kan dengan beberapa langkah. Langkah pertama, menentukan sebuah gambar dalam format digital kemudian dibagi menjadi beberapa potongan gambar kecil. Potongan-potongan gambar digital tersebut kemudian dikirimkan ke perangkat mobile para perserta. Langkah selanjutnya, adalah merangkai perangkat mobile, layar demi layar, untuk menunjukan satu kesatuan gambar yang sebelumnya telah dibagi.

Dalam kesempatan presentasi di ST PAUL St Gallery, tidak lupa kami mengundang hadirin yang datang untuk berpartisipasi dalam proyek seni ini. “Phosaic” pun diselenggarakan pada Sabtu (28/5) pukul 2 siang di Wynyard Quarter, atau yang Aucklanders lebih kenal dengan sebutan Viaduct. Dua belas orang termasuk kami datang untuk berpartisipasi. Peserta tidak hanya berasal dari Indonesia, tapi juga Selandia Baru, Iran, dan Thailand. Tidak lupa sesi tersebut kami rekam dalam video.

ts4

“Phone mosaic” yang menampilkan peta Selandia Baru saat disatukan. (foto: Ary Novianto)

ts5

Peserta Phosaic dari beragam kewarganegaraan. (foto: Ary Novianto)

Selain sebagai perwujudan aksi dari butir ketiga “Triactus Scolasticus”, kegiatan “Phosaic” sendiri ditujukan untuk menyinggung beberapa isu, yaitu: Auckland sebagai rumah sementara kami, para temporary migrants; kemajemukan masyarakat Auckland; kolektivisme dan kolaborasi antara keragaman individu; serta pemanfaatan teknologi sebagai media dalam berkarya seni.

 

Memperingati Kelahiran Pancasila, 1 Juni

“Triactus Scolasticus” dan rekaman sesi “Phosaic” dirilis pada hari Rabu, 1 Juni 2016, bertepatan dengan hari kelahiran Pancasila. Peluncuran ini akan diadakan di semua kanal media sosial PPI Auckland.

Pancasila sendiri resmi dideklarasikan sebagai dasar negara dan ideologi nasional pada tahun 1945. Pancasila juga tercantum dalam paragraf ke-4 pembukaan Undang-Undang Dasar 1945. Sejak saat itu, Pancasila selalu ditanamkan sebagai pedoman hidup bangsa Indonesia.

Serupa dengan itu, kami berharap “Triactus Scolasticus” dapat menjadi pedoman generasi penerus tanah air. Pedoman yang mengubah pemikiran kita tentang diri sendiri dan orang lain; menggelitik hati; dan mendorong kita untuk melakukan aksi-aksi kecil yang dampaknya tidak terbatas apabila dilakukan secara kolektif dan berkelanjutan.

Inilah sebuah pemikiran, tekad, dan cita-cita kami, pelajar Indonesia di Auckland. Mana pemikiran, tekad dan cita-citamu kawan?

Kontributor:

Zita Reyninta Sari

Masters of English – University of Auckland

Jannata Giwangkara

Masters of Energy – University of Auckland

Indonesia Memboyong Tiga Penghargaan Pada ‘New Zealand Aid Scholar Cultural Lunch Party’

Kamis, 12 Mei 2015, tim beasiswa dari NZAID mengadakan ‘NZ Aid Scholar Cultural Lunch Party’ di Maclaurin Chapel Hall, the University of Auckland. Empat universitas menjadi undangan dalam kegiatan ini termasuk, Auckland University of Technology (AUT), University of Auckland (UoA), UNITEC, dan Massey University. Semua penerima beasiswa NZAID, keluarga serta staf beasiswa NZAID dan para tamu undangan dari ke empat universitas ikut memeriahkan kegiatan ini. Tak luput, beberapa sahabat dari Afrika dan Negara kepulauan Pasifika ikut memeriahkan pesta budaya dan makan siang ini.

Kegiatan ini disemarakkan dengan beberapa perlombaan ‘Culinary Awards’ yang dinilai oleh AUT Celebrity Chef, Alan Brown dengan beberapa kriteria: The Most Impressive, The Most Healthy, The Hottest and The Winning Dessert. Berbagai mahasiswa dari berbagai negara menampilkan makanan khas masing-masing negara dengan cantik, kreatif dan lezat yang menjadi sajian makan siang buat keluarga besar NZAID dan tamu undangan.

Tim Indonesia, yang dikoordinasi oleh Dinar Lubis menampilkan makanan dengan tema JAJANAN NUSANTARA. Gado-gado, bakso, pempek, sate ayam, kolak pisang durian, bakwan jagung udang dengan sambal terasi, martabak manis, agar-agar gula merah, klepon dan kerupuk mewakili jajanan di Indonesia. Semua jajanan disusun dengan cantik dan apik oleh tim Dekorasi: Rudy Harahap, Anita, Ruri dkk.

cultural-lunch1

Jajanan Nusantara tim Indonesia

Kegiatan ini juga dimeriahkan dengan pertunjukan seni dan budaya dari salah satu negara Pasifika, Tonga, dan beberapa negara ASEAN, seperti Filipina, Kamboja, Laos termasuk Indonesia. Tim Indonesia, perwakilan dari Perhimpunan Pelajar Indonesia (PPI) Auckland, dimotori langsung oleh Presiden PPI Auckland, Wayan Linggawa, turut memeriahkan kegiatan ini. Tari Piring yang dibawakan oleh Tatum Syarifah Adiningrum dan Yudithia Prastika memberikan kesan tersendiri. Margaret Leniston, tim beasiswa NZAID dari AUT sebagai koordinator acara ini juga berkomentar, ‘we should have additional awards: the Most Dangerous Dance’ dibarengi dengan gelak tawa penonton. Indonesia juga menampilkan paduan suara, Swara Nusantara, dengan lagu ‘Ayo Mama’ dari Maluku dilengkapi dengan teatrikal anggota tubuh.

cultural-lunch2

Swara Nusantara – Indonesian Choir membawakan lagu Ayo Mama dari Maluku

cultural-lunch4

Tari Piring dari Sumatera Barat

Kegiatan ini ditutup oleh penampilan workshop angklung dadakan dari Indonesia, yang mengajak pentonton memainkan lagu ‘Are You Sleeping?’ dan ‘Let It Go – Frozen’. Menariknya, permainan angklung dimainkan oleh 14 sukarelawan dari penonton yang tidak pernah bermain angklung sebelumnya, Amazing bukan. Kepiawaian tim angklung dadakan ini tidak lepas dari kepiawaian mahasiswi Indonesia, Zita Reyninta Sari dan Lavinia Disa mengarahkan permainan angklung mereka.

cultural-lunch3

Workshop angklung dadakan dari PPI Auckland

Indonesia berhasil memboyong tiga penghargaan dalam festival ini. The Best Inclusive Performance (permainan Angklung), The Most Creative Presentation (Jajanan Nusantara) dan The Most Amazing Female Performance (Tari Piring). Luar biasa kerjasama tim untuk mengharumkan negara INDONESIA. Merdeka…

 

Kontributor:

Najmah

PhD in Public Health – AUT University

Sumber foto:

Dokumentasi pribadi (Najmah)

Opening Performance Pameran Irwan Ahmett dan Tita Salina: “The Flame of The Pacific”

Pasangan seniman Irwan Ahmett dan Tita Salina selama ini tersohor di Indonesia atas karya-karyanya yang selalu menyoal isu sosial dalam ranah ruang publik. Kali ini, mereka berkesempatan untuk tinggal di Auckland sepanjang bulan Mei 2016. Mereka merupakan salah satu seniman yang menerima Residence Fellowship di bidang Curatorial Study dari ST PAUL St Gallery, dan satu-satunya yang berasal dari Indonesia.

Kamis (21/04/2016) lalu, mereka menyelenggarakan grand opening rangkaian instalasi seni mereka yang diberi judul The Flame of the Pacific, bertempat di ST PAUL St Gallery, AUT University School of Art and Design, Auckland. Untuk pagelaran seni mereka ini, Irwan dan Tita memusatkan perhatian kepada situasi geopolitis di atas Cincin Api Pasifik (Pacific Rim of Fire), yang tidak hanya mencakup Indonesia dan negara ASEAN lainnya, melainkan juga Selandia Baru. Karya-karya mereka menyingkap bahwa ternyata kedua negara tersebut memiliki banyak kesamaan, tidak hanya dalam kasus bencana alam, namun juga marginalisasi kaum minoritas.

Untuk mengisi acara pembukaan pameran mereka yang bertepatan dengan penyelenggaraan Hari Kartini, Irwan dan Tita menggandeng PPI Auckland. Beberapa perwakilan PPI Auckland yang tergabung dalam kelompok paduan suara Swara Nusantara ini pun menyajikan penampilan yang sangat menghibur dan atraktif, tepat di tengah-tengah para pengunjung pameran yang langsung tersedot perhatiannya.

irwantita2

Performance dari PPI Auckland

Performance dibuka dengan lantunan lagu “Ibu Kita Kartini” dengan gaya acapella, dilatarbelakangi oleh proyeksi wajah dan quotes R. A. Kartini. Kemudian disambung dengan lagu “Cublak-Cublak Suweng” dan “Ayo Mama” yang mengiringi anak-anak kecil bermain di tengah ruangan. Nyanyian berlanjut ke lagu tradisional Maori, “Pokarekare Ana”. Tampak beberapa hadirin ikut bernyanyi.

Namun, performance belum berakhir. Para penampil telah mempersiapkan kejutan lain untuk hadirin. Beberapa dari mereka dipinjamkan angklung, dan dimulai lah kursus kilat permainan angklung dari PPI. Animo hadirin terlihat luar biasa antusias. Setelah pengajaran singkat mengenai cara memegang dan membunyikan angklung, para hadirin diajarkan untuk bermain “Twinkle-Twinkle Little Star”.  Gelak tawa mereka terdengar saat menyadari bahwa lagu kedua yang mereka mainkan adalah lagu “Let It Go” dari film animasi Frozen, yang segera disambut oleh iringan kompak nyanyian penonton.

irwantita3

Workshop angklung dadakan

Performance pun ditutup dengan riuhnya tepuk tangan hadirin. Bahkan, beberapa dari mereka terlihat sangat tertarik untuk mempelajari angklung lebih lanjut. Semoga kesenian Indonesia akan jaya selalu di mata internasional!

 

Reporter:

Zita Reyninta Sari

Master of Arts in English Literature, University of Auckland

Sumber foto:

Divisi Informasi dan Dokumentasi PPI

Indonesia dari Kacamata Kang Emil

Ridwan Kamil sedang asyik diskusi dengan beberapa rekan PPI Auckland ketika saya menemuinya di sebuah restoran di bilangan Aotearoa, Auckland. Beberapa hari sebelumnya (Selasa, 4/4/2016) Walikota Bandung yang akrab dipanggil Kang Emil itu baru saja menerima penghargaan Prime Minister Fellowship dari PM John Key sebagai pemimpin inovatif di negara-negara ASEAN, menambah panjang daftar penghargaan internasional yang sudah ia terima sebelumnya. Selain agenda pertemuannya dengan John Key, Kang Emil juga menyempatkan diri untuk mengunjungi beberapa kota di North dan South Island untuk bertemu pengusaha-pengusaha dan Walikota setempat. Auckland adalah tujuan terakhir sebelum ia bertolak pulang ke Tanah Air Jum’at tengah malam (8/4/2016).

Sore itu pengurus PPI Auckland bersama dengan beberapa perwakilan Komunitas Indonesia Auckland (KIA) berkesempatan untuk ngobrol santai dengan Kang Emil tentang banyak hal, termasuk cerita bagaimana ia memulai karirnya di dunia politik.

“Saya terjun ke dunia politik setelah saya cukup mandiri”, kata Kang Emil.

“Saya membangun karir dulu, setelah cukup mandiri saya mulai terjun ke kegiatan sosial, baru kemudian mulai meniti karir politik. Kalau tidak, bisa susah nanti, kita jadi terlalu bergantung pada karir politik. Kalau saya, misalnya nantinya masih dipercaya untuk melanjutkan ya alhamdulilllah, kalau tidak, saya bisa kembali menekuni dunia profesional”.

Sebelum terpilih menjadi Walikota, Kang Emil lebih dikenal sebagai arsitek. Sosoknya sebagai seorang pemimpin muda mulai mendapatkan sorotan secara luas oleh masyarakat setelah ia menginisiasi gerakan Indonesia Berkebun. Saat ini akun Twitter gerakan ini, @IDBerkebun, sudah diikuti oleh lebih dari 149.000 followers, sementara kegiatan offline-nya sudah tersebar di sekitar 20 kota.

Saat ini Kang Emil menjadi sosok pemimpin muda yang cukup menonjol di Indonesia. Bahkan beberapa pihak mulai menggadang-gadang pria yang akrab di berbagai media sosial ini sebagai salah satu kandidat pemimpin nasional di masa depan.

“Generasi saya adalah perintis perubahan, generasi kalian lah yang nanti bertanggung jawab melanjutkan”, kata Kang Emil dengan raut muka serius.

Lantas, bagaimana visi Kang Emil tentang Indonesia? Apa saja hambatan terbesar kita saat ini? Dan bagaimana cara mengatasinya? Berikut petikan obrolan singkat PPI Auckland dengan Kang Emil.

Menurut Kang Emil, apa sih modal terbesar Indonesia untuk maju?

Kalau menurut saya semangat gotong royong-nya, disamping kekayaan sumber daya alam. Coba kalian perhatikan, kalau di luar negeri ketemu sesama dengan Indonesia rasanya cepat sekali akrabnya. Kita juga mudah untuk saling membantu dan bekerjasama. Ini saya buktikan sendiri waktu penyelenggaraan Konferensi Asia Afrika (KAA) di Bandung tahun 2014 lalu. Saat itu saya mengajak warga Bandung untuk menjadi relawan demi untuk mensukseskan acara ini. Ternyata responnya luar biasa, bahkan tak terbatas hanya warga Bandung saja. Banyak relawan yang datang dari luar kota seperti Jakarta, Bekasi, bahkan luar Jawa. Menurut saya ini modal yang penting sekali.

Lalu, apa sih masalah terbesar yang dihadapi oleh Indonesia saat ini?

Dari pengalaman saya selama 2 tahun menjadi Walikota, menurut saya masalah terbesar kita ada di mindset. Contohnya saja di Bandung. Mereka yang suka melakukan kejahatan bukan hanya orang-orang miskin, tapi orang kaya juga. Orang miskin di street crime-nya sementara orang kaya di white collars crimes, nggak bayar pajak. Bikin restoran nggak bayar pajak, nggak mengurus IMB sebelum bikin gedung. Yang kedua birokrasi. Banyak yang pola pikirnya sudah membatu sejak zaman dulu. Salah satunya korupsi. Sekarang ini kita memiliki terlalu banyak aturan yang justru menjerat diri kita sendiri. Membuat kinerja birokrasi menjadi terlalu lamban untuk bisa diajak maju.

Lalu, bagaimana strategi Kang Emil untuk mengatasi masalah ini?

Orang-orang seperti ini susah sekali berubah kalau hanya sekedar ditegur atau dinasehati. Nah, untuk menghadapi mereka, kita harus melakukan inovasi-inovasi di tingkat kebijakan. Misalnya saja dengan memanfaatkan kemajuan IT.  Di Bandung saya bikin aplikasi-aplikasi untuk memperingkas urusan birokasi dan juga memberantas  korupsi. Misalnya untuk urusan pendidikan, saya buat sistem online untuk pendaftaran sekolah. Sistem ini bisa menghentikan praktik-praktik jual beli bangku sekolah yang biasa terjadi zaman dulu. Kemudian untuk urusan pemerintahan, kita buat BIRMS (Bandung Integrated Resources Management System), yang terdiri dari e-budgeting, e-project planning, e-contracting, e-controlling, dan e-monev. Tujuannya adalah meminimalkan interaksi langsung antara warga dan petugas. Kita juga punya aplikasi untuk mengevaluasi kinerja pemerintahan sampai tingkat kelurahan. Warga bisa mendaftarkan diri dengan nomor KTP, kemudian memberikan laporan dan rating untuk lurahnya masing-masing.

Dengan berbagai langkah reformasi birokrasi selama 2 tahun ini, alhamdulillah Kota Bandung mendapatkan Penghargaan Akuntabilitas Kinerja Terbaik Nasional Tahun 2015 dengan predikat A, melompat dari sebelumnya ranking 400 menjadi ranking 1 di tingkat nasional.

Saat ini Kang Emil sedang giat mencanangkan Bandung menjadi Smart City.  Salah satu caranya adalah dengan mengembangkan lebih dari 1.000 aplikasi disertai berbagai inovasi kebijakan yang bertujuan untuk mengefisienkan birokrasi dan meningkatkan akuntabilitas pemerintahannya. Beberapa inovasinya cukup unik, misalnya baru-baru ini Kang Emil mengeluarkan kebijakan layanan antar dokumen kependudukan (KTP, KK, dll) ke rumah warga dengan kurir bermotor secara gratis.

Kalau menurut Kang Emil, apa modal terpenting yang harus kita miliki untuk mampu menciptakan perubahan di Indonesia?

Menurut saya, hal terpenting yang harus kita miliki untuk melakukan perubahan, khususnya di sektor public service, adalah kesabaran. Kadang nggak mudah untuk menghadapi berbagai kritik di saat saya sedang bekerja keras melakukan reformasi. Sebagai contoh, saya kerja dari jam 8 pagi sampai jam 10 malam, tapi ada orang yang mengatakan saya gagal melakukan reformasi birokrasi di Bandung. Padahal saat itu saya menjabat belum genap 2 tahun. Untuk menghadapi hal-hal semacam ini ya kita sabar saja. Lebih baik menjawab kritik dengan prestasi. Dan alhamdulillah, kritik-kritik seperti ini hilang dengan sendirinya setelah Kota Bandung mendapatkan penghargaan sebagai pemerintahan dengan kinerja terbaik di tingkat nasional. Kadang media juga tidak berimbang ketika membuat pemberitaan. Saat kritik muncul, liputannya muncul dimana-mana, tapi saat kami mendapatkan prestasi beritanya tak seheboh kritiknya. Menghadapi yang seperti ini ya kita kembali harus sabar.

Yang kedua, anak-anak muda seperti kalian juga harus mau menemani saya di birokrasi. Tentu saja sebelum itu kalian harus mandiri dulu. Jangan sampai begitu terjun ke dunia politik, kalian seperti tak punya pilihan lain, dan terlalu bergantung pada politik. Orang-orang yang hidupnya hanya bergantung pada politik cenderung akan melakukan apa saja demi untuk mempertahankan kekuasaannya.

Tapi ada juga yang bisa kalian mulai dari sekarang. Kan gini ya, ada empat hal yang bisa kita bagi; berbagi waktu, berbagi tenaga, berbagi harta, dan yang keempat berbagi gagasan. Untuk berbagi gagasan kan masalah jarak tak jadi masalah. Mau di Selandia Baru, maudi New York atau di manapun kalian bisa berbagi gagasan. Makanya saya bikin aplikasinya, iuran.id. iuran.id adalah platform seperti Facebook di mana orang yang punya gagasan bisa berbagi di sana. Karena saat ini saya sedang bekerja di Bandung, ya gagasan-gagasannya untuk memajukan Bandung. Nanti saya kumpulkan ide-ide itu. Kalau doable, saya eksekusi.

Terakhir saran saya, kalian perlu mulai membuat jaringan pertemanan di antara orang-orang yang idealis. Ini penting, dan nggak semua orang mau. Dengan cara-cara ini saya yakin kalian bisa berkontribusi untuk Indonesia.

 

Rekaman wawancara dengan Kang Emil dapat dilihat disini.


Reporter:

Moh Abdul Hakim

PhD student in Political Psychology, Massey University

hakimpsi@yahoo.com

Sumber foto:

Divisi Informasi dan Dokumentasi PPI

Auckland Indonesia Festival 2016: Kemeriahan Wonderful Indonesia di Tanah Auckland

aif1

Penari Topeng (Photo: Furqon Waspada)

Ribuan warna meriah menghiasi Sabtu pagi, 2 April 2016, di Raye Freedman Arts Centre, Epsom Girls Grammar School. Berbagai pertunjukkan kesenian siap ditampilkan. Stand makanan Indonesia didirikan, menggoda siapa saja dengan aroma yang menggiurkan. Tidak lupa booth promosi pariwisata hasil kerja sama dengan Kementrian Pariwisata Indonesia mengundang para traveller yang penasaran akan keindahan Wonderful Indonesia.

Begitulah suasana Auckland Indonesia Festival tahun ini. Auckland Indonesia Festival  merupakan acara tahunan yang digagas oleh Kedutaan Besar Republik Indonesia di New Zealand beserta komunitas IDNZ (Indonesia-New Zealand), dan bekerja sama dengan PPI Auckland. Tahun 2016 merupakan umur pagelaran ini yang keenam. Setiap tahun, acara ini selalu padat dikunjungi oleh penduduk Auckland yang berlatarbelakan multinasional dan multikulturaL. Kali ini pun bukan merupakan pengecualian. Malah, pengunjung yang datang tercatat jauh lebih membludak dibandingkan tahun lalu.

Salah satu highlight acara adalah art performance yang tidak hanya diisi oleh residents Auckland asal Indonesia, namun juga para anggota dan pengurus PPI Auckland. Malah, kami termasuk dari penampil yang paling all out lho! Pentas seni ini menyajikan tarian-tarian lintas nusantara, fashion show busana khas Indonesia, paduan suara, permainan angklung, dan lainnya. Yang paling unik, adalah permainan alat musik yang belum terlalu sering didendangkan bahkan di Indonesia sekalipun, yaitu sasando rote. Permainan alat musik asal Nusa Tenggara Timur di tangan teman kami, Prili, ini sanggup memukau penonton. Bahkan, ada yang mengaku sampai meneteskan air mata saking syahdunya!

aif2

Permainan lagu-lagu daerah dan nasional lewat sasando rote yang menyentuh (Photo: Agus Joharuddin)

aif3

Gerak lincah penari pendet Bali (Photo: Agus Joharuddin)

Selain pertunjukkan seni, festival yang diadakan mulai pukul 11.00 hingga 21.00 waktu setempat ini juga menyajikan atraksi-atraksi lain. Ada stand makanan Indonesia, stand batik, dan penayangan film Indonesia. Ada dua stand makanan yang dibuka, menyajikan aneka sajian khas nusantara. Mulai dari sate, ayam taliwang, lontong sayur, nasi kuning, sampai kue-kue jajanan pasar pun ada! Cocok untuk mengobati kerinduan lidah para mahasiswa rantau atau untuk para foreigners yang penasaran akan kelezatan makanan kita. Tidak heran, antrian dua stand tersebut mengular panjang.

Di stand batik, pengunjung dapat membeli busana dan kain batik asli Indonesia. Namun yang paling mengasyikkan, mereka juga dapat menghadiri workshop membuat batik. Tidak hanya diajari jenis-jenis kain batik, mereka juga langsung latihan praktik teknik menghias batik. Hasilnya boleh dibawa pulang lho oleh pengunjung. Tidak heran banyak dari mereka yang pulang dengan senyum puas yang tersungging.

aif4

Pengunjung memadati stand makanan (Photo: Ary Novianto)

aif5

Semangat mengikuti workshop batik (Photo: Ary Novianto)

Acara kemudian ditutup dengan penayangan film “Habibi Ainun.” Film ini dinilai cocok untuk mengenalkan jasa salah satu wakil presiden kita, BJ Habibie, ke mata penduduk New Zealand. Selain itu, ceritanya yang romantis dan penayangannya di malam Minggu membuatnya pas untuk jadi pilihan movie date night. 😀

Acara ini terasa semakin istimewa karena dihadiri oleh Duta Besar Jose Tavares dan Walikota Auckland, Len Brown. Mayor Brown menyampaikan kekagumannya akan kekayaan budaya Indonesia. Sementara itu, Dubes Jose yang memberikan sambutan di awal acara optimis Auckland Indonesia Festival dapat meningkatkan kedatangan jumlah turis asing asal New Zealand ke Indonesia. Seusai pentas seni, Pak Dubes, Pak Walikota Auckland beserta beberapa wakil pemerintahan setempat juga menyempatkan diri untuk berfoto bersama para performers.

aif6

Walikota Auckland Len Brown berpose dengan para performers pentas seni AIF (Photo: Furqon Waspada)

aif7

Duta Besar Jose Tavares dan tim paduan suara Swara Nusantara, pengisi acara AIF (Photo: Ary Novianto)

Festival ini terbuka bagi student mau pun resident. So, jangan ragu untuk berpartisipasi. Sampai jumpa di Auckland Indonesia Festival tahun depan!

Kontributor:

Zita Reyninta Sari

Master in English Literature, University of Auckland

Welcoming BBQ PPI Auckland

Pada tanggal 12 Maret 2016, PPI Auckland telah menyelenggarakan acara besar perdana di tahun 2016 dengan menyambut semua pelajar aktif yang baru datang maupun sedang melanjutkan studi di Auckland. Acara Welcoming Barbeque tersebut dilaksanakan di Cornwall Park One Tree Hill dari pukul 3.30 pm – 6.00 pm dan diawali dengan pembukaan oleh Presiden PPI Auckland Wayan Linggawa.

bbq1

Anggota PPI sedang memperkenalkan diri

Acara tersebut juga dihadiri oleh semua pengurus PPI Auckland periode 2016 serta mahasiswa Indonesia lainnya di Auckland. Acara welcoming barbeque dihadiri oleh pelajar Universitas di Auckland seperti University of Auckland, AUT, Massey University, Unitec, NSIA, Media Design School dan institusi pendidikan lainnya.

Acara dimulai dengan perkenalan masing-masing pelajar yang dibawakan oleh Diast selaku sebagai MC di acara tersebut. Kemudian dilanjutkan dengan memperkenalkan pengurus PPI Auckland aktif saat ini.

bbq2

Games tanggal lahir

Acara kemudian dilanjutkan dengan game ‘ulang tahun’ yang dipimpin oleh Disa. Cara memainkan game tersebut adalah dengan menempatkan diri kita masing masing ke barisan dengan mengurutkan tanggal dan bulan lahir kita tanpa berbicara satu sama lain. Setelah selesai, acara dilanjutkan dengan menyajikan hidangan barbeque.

bbq8

Ngobrol-ngobrol

bbq3

Lesehan sambil makan

Semua orang berinteraksi satu sama lain dan saling berbincang. Tujuan acara welcoming barbeque tersebut memang untuk mempererat silaturahmi diantara anggota PPI Auckland.

bbq4

Keluarga besar PPI Auckland 🙂

Setelah hidangan makanan telah habis, acara akhirnya ditutup oleh Presiden PPI Auckland Wayan Linggawa dan dilanjutkan dengan foto bersama. Setelah penutupan, sebagian dari kami berekreasi ke puncak One Tree Hill sambil menikmati pemandangan kota Auckland sampai matahari terbenam.

bbq5

Sebagian dari anggota PPI yang ikut naik ke One Tree Hill

bbq6

Foto bareng di One Tree Hill

Kontributor:

Ghifari Fajra Ganefianto

Bachelor in Environmental Science, University of Auckland

Sumber foto:

Divisi Informasi dan Dokumentasi PPI

Waitangi Learning Day

Pada tanggal 7 Februari 2016, PPI Auckland menyelenggarakan Waitangi Learning Day dalam rangka memperingati hari Waitangi yang dirayakan setiap 6 Februari di Selandia Baru. Waitangi Learning Day dilaksanakan selama setengah hari, bertempat di The University of Auckland City Campus, dan dihadiri oleh pengurus dan anggota PPI Auckland serta warga Indonesia lain yang tinggal di Auckland.

Acara dimulai pukul 11.30 am dengan sambutan dari Wayan Linggawa selaku Presiden PPI Auckland 2016 dan dilanjutkan dengan pemutaran film berjudul “Boy”. Film ini adalah produksi asli Selandia Baru, disutradarai oleh Taika Waititi, tentang seorang anak bernama Alamein/”Boy” dan dinamika hubungannya dengan ayahnya yang baru saja kembali ke rumah mereka.

waitangild-1

Break time setelah nonton film.

Setelah itu, acara dilanjutkan dengan materi dan tanya jawab tentang the Treaty of Waitangi yang dibawakan oleh MA Hakim, PhD student dari Massey University. Materi ini meliputi sejarah singkat perjanjian Waitangi, kondisi Maori di Selandia Baru saat ini, dan kaitan perjanjian Waitangi dengan Sumpah Pemuda di Indonesia sebagai mitos pengikat bangsa.

waitangild-1

Diskusi santai yang dibawakan oleh MA Hakim

Acara ditutup dengan hadirin belajar menyanyikan lagu cinta berbahasa Maori berjudul “Pokarekare Ana”. Pukul 03.00 pm, acara selesai dan ditutup dengan foto bersama semua hadirin dan panitia.

waitangild-1

Foto bareng 🙂

Kontributor:

Lavinia Disa Winona Araminta

Master in Applied Linguistics, University of Auckland

Sumber foto:

Divisi Informasi dan Dokumentasi PPI

Diskusi Ramadhan: Gamis vs Sarung?

Menjadi Islam tak berarti menggunakan surban, gamis, ataupun berjanggut. Tapi tentu saja, pilihan untuk menggunakan dandanan seperti orang Arab tak dilarang. Demikian pula, menggunakan sarung adalah budaya yang sudah ada di Indonesia sejak entah kapan. Budaya-budaya lokal seperti ini adalah hal yang berbeda dengan ajaran Islam.

diskusiramadhan

Dalam Lingkar Diskusi Indonesia yang diselenggarakan Perhimpunan Pelajar Indonesia Auckland, Jumat (9 Juli 2015) di iSpace kampus University of Auckland, pengajar Fakultas Ushulluddin Universitas Islam Negeri Sunan Kalijaga Yogyakarta Ahmad Rafiq menegaskan, Islam adalah ajaran yang tumbuh dan menyebar ke berbagai budaya lokal, termasuk Arab dan Indonesia. Saat ‘bertemu’ dengan budaya lokal, Islam pun menyerap karakter budaya setempat. “Ketika Islam ada pada lokalitas yang berbeda, Islam bersandar pada tempat itu. Demikian juga, Islam disandarkan pada budaya Arab,” ujar Rafiq yang hadir dalam diskusi di sela-sela safari Ramadhan dengan Pengurus Cabang Istimewa NU Selandia Baru.

Serupa dengan perdebatan cara mengaji berlanggam jawa versus langgam arab. Menurut Rafiq, tak diketahui seperti apa cara mengaji dengan langgam arab. Sebab, cara mengaji yang kerap dianggap standar dan digunakan dalam Musabaqah Tilawatil Quran (MTQ) adalah adaptasi cara mengaji orang Persia oleh orang Mesir. Setelah direkam sekitar tahun 1960-an dan menyebar, cara mengaji ini dianggap standar. Ketika masuk suatu wilayah, tambah Rafiq, Quran bisa dibaca dengan lagu sesuai budaya lokal.

diskusiramadhan2

Dr Ahmad Rafiq

Rafiq yang juga Pengurus PCINU AS-Kanada ini menilai, perdebatan tentang mengaji dengan langgam jawa muncul ketika Presiden Joko Widodo mengundang seorang qori membacakan Quran di Istana Negara, kebetulan dengan langgam jawa, dan disiarkan secara nasional. Kenyataannya, qori tersebut sudah mengaji dengan langgam jawa jauh sejak sebelum itu, bahkan melakukannya di Masjidil Haram, tanpa mengundang perdebatan berkepanjangan. Karenanya, diperkirakan perdebatan ini muncul karena alasan politis dan etnisitas belaka.

Dalam diskusi, salah seorang mahasiswa Rizal mempertanyakan masalah qiraat dalam cara mengaji yang dinilai semestinya. Rafiq menjelaskan, kendati ada istilah qiraat dalam pembacaan Quran, tetapi qiraat adalah varian cara membaca Quran yang diakui para ulama, bukan lagunya. Adapun soal lagu atau langgam, tak ada rujukannya. Nagham yang selama ini dianggap langgam Arab pun sesungguhnya hanya adaptasi para umat Mesir dari langgam Persia yang direkam dan menyebar termasuk ke Indonesia. Karenanya, Rafiq mengatakan, perdebatan Islam Nusantara semestinya ada pada tataran cara berpikir (epistemologi), bukan di tataran materiil seperti budaya lokal. Masalah pribumisasi Islam secara epistemologi juga sudah pernah didiskusikan oleh Presiden keempat RI KH Abdurrahman Wahid, atau lebih dikenal dengan Gus Dur.

Diskusi di bulan Ramadhan ini diakhiri dengan buka puasa bersama.

Photo by Stefani Angelina