“Triactus Scolasticus”: Sepenggal Gagasan Utopis untuk Indonesia

Looking Back to Move Forward” adalah tema diskusi terbuka yang diselenggarakan oleh pasangan seniman Irwan Ahmett dan Tita Salina pada Kamis (26/5/16). Acara ini merupakan bagian dari serangkaian program fellowship ST PAUL St Gallery, AUT University, untuk Irwan dan Tita yang diadakan dari 22 April hingga 27 Mei 2016.

Dalam diskusi terbuka tersebut, tiga pembicara diundang sebagai presenter. Dua pembicara pertama adalah pelaku seni yang pernah terlibat di dalam aktivitas dengan ST PAUL St Gallery. Berbekal latar belakang etnis yang berbeda, dalam presentasinya, mereka berbagi pandangan dan pengalaman mengenai globalisasi dan konsep kosmopolis.

Tidak mau kalah dengan yang sebelumnya, perwakilan dari PPI Auckland juga berkesempatan menjadi presenter ketiga, lho. Digawangi oleh Wayan, Egi, Ghifar, dan Zita, kami hadir untuk menyuarakan hasil pemikiran dan konsep proyek seni kami: “Triactus Scolasticus” dan “Phosaic”. Kedua materi tersebut merupakan buah dari workshop yang diadakan PPI Auckland bersama Irwan dan Tita sebelumnya.

 

“Triactus Scolasticus”

Workshop yang diadakan pada Kamis (13/5/16) dua pekan sebelumnya tersebut bertemakan social creativity dan berjudul “The Art of Making a Change”. Dalam workshop tersebut, diskusi dimulai dengan membahas berbagai tantangan yang dihadapi oleh kota Auckland saat ini, dan kaitannya dengan globalisasi. Kami dan beberapa peserta lain ditantang untuk membangun sebuah konsep pemikiran, yang diharapkan akan berujung kepada cita-cita utopis bangsa Indonesia di masa depan. Tidak hanya sampai disitu, ide-ide tersebut juga kemudian diharapkan dapat diekspresikan dalam sebuah proyek seni.

ts1

Anggota PPI Auckland bersama Irwan Ahmett dan Tita Salina di dalam workshop ”The Art of Making Social Change”, 13 Mei 2016 di ST PAUL St Gallery, AUT University (foto: Ary Novianto)

Berangkat dari gagasan tersebut, kami sepakat untuk mengangkat topik yang berkaitan dengan globalisasi. Kami sadar bahwa globalisasi mengeliminasi batasan dalam berinteraksi secara global, serta menambah luas kanal informasi dan pengetahuan. Namun di sisi lain, globalisasi tanpa disadari juga menyuburkan perilaku konsumerisme, yang mengakibatkan semakin terpojoknya kelas pekerja. Oleh karena itu, sebuah prinsip yang teguh sepantasnya diperlukan bagi kita sebagai “agent of changes”, demi membawa perubahan yang lebih baik bagi tanah air.

Setelah proses brainstorming selama beberapa malam, perwakilan PPI Auckland kemudian menghasilkan tiga butir prinsip yang dinamakan “Triactus Scolasticus.” Slogan tersebut diadopsi dari Bahasa Sansekerta dan Latin. “Tri” berarti tiga, sedangkan “actus” adalah aksi. “Scolasticus” sendiri berarti pelajar. Penggabungan menjadi “Triactus Scolasticus” berarti “tiga aksi (dari) pelajar.” Selain itu, “triactus” dapat dipecah menjadi “tri” “act” dan “us”, atau “three ACTions from us.” Ketiga butir pemikiran itu adalah:

  1. Setiap individu memiliki kemampuan dan kesempatan yang sama dengan individu lainnya (Every individual possesses the capability and opportunity to achieve greatness)
  2. Keragaman yang dimiliki setiap individu menjadi pelengkap bagi individu lainnya untuk mencapai tujuan bersama (Common goal is accomplished by harnessing every individual uniqueness)
  3. Perubahan kecil yang dilakukan setiap individu dapat berdampak dalam skala yang tak terbatas (Small actions trigger changes on an infinite scale)

Ketiga butir prinsip tersebut adalah kristalisasi pemikiran kami sebagai bagian dari generasi penerus bangsa dalam era globalisasi. Ketiga pemikiran ini menjadi prinsip kunci yang diharapkan dapat ditanamkan dalam diri setiap insan Indonesia di mana pun mereka berada, kapan pun zamannya.

ts2

Representatif PPI Auckland ketika mempresentasikan “Triactus Scolasticus” dalam diskusi terbuka “Looking Back to Move Forward”, 26 Mei 2016 di ST PAUL St Gallery, AUT (foto: Lavinia Disa)

ts3

Representatif PPI Auckland dan kertas berisi coretan konsep “Triactus Scolasticus”. Dari kiri ke kanan: Ghifar, Wayan, Egi, Zita. (foto: Rara Sekar Larasati)

 

“Phosaic”

Sebagai manifestasi dari “Triactus Scolasticus”, kami juga merancang sebuah proyek seni yang kami sebut sebut “Phosaic”. “Phosaic” adalah gabungan dari kata “Phone” dan “Mosaic.” “Phosaic” kami rancang dalam bentuk sebuah playshop (bukan workshop, karena dasar dari kegiatan ini adalah fun). “Phosaic” di”main”kan dengan beberapa langkah. Langkah pertama, menentukan sebuah gambar dalam format digital kemudian dibagi menjadi beberapa potongan gambar kecil. Potongan-potongan gambar digital tersebut kemudian dikirimkan ke perangkat mobile para perserta. Langkah selanjutnya, adalah merangkai perangkat mobile, layar demi layar, untuk menunjukan satu kesatuan gambar yang sebelumnya telah dibagi.

Dalam kesempatan presentasi di ST PAUL St Gallery, tidak lupa kami mengundang hadirin yang datang untuk berpartisipasi dalam proyek seni ini. “Phosaic” pun diselenggarakan pada Sabtu (28/5) pukul 2 siang di Wynyard Quarter, atau yang Aucklanders lebih kenal dengan sebutan Viaduct. Dua belas orang termasuk kami datang untuk berpartisipasi. Peserta tidak hanya berasal dari Indonesia, tapi juga Selandia Baru, Iran, dan Thailand. Tidak lupa sesi tersebut kami rekam dalam video.

ts4

“Phone mosaic” yang menampilkan peta Selandia Baru saat disatukan. (foto: Ary Novianto)

ts5

Peserta Phosaic dari beragam kewarganegaraan. (foto: Ary Novianto)

Selain sebagai perwujudan aksi dari butir ketiga “Triactus Scolasticus”, kegiatan “Phosaic” sendiri ditujukan untuk menyinggung beberapa isu, yaitu: Auckland sebagai rumah sementara kami, para temporary migrants; kemajemukan masyarakat Auckland; kolektivisme dan kolaborasi antara keragaman individu; serta pemanfaatan teknologi sebagai media dalam berkarya seni.

 

Memperingati Kelahiran Pancasila, 1 Juni

“Triactus Scolasticus” dan rekaman sesi “Phosaic” dirilis pada hari Rabu, 1 Juni 2016, bertepatan dengan hari kelahiran Pancasila. Peluncuran ini akan diadakan di semua kanal media sosial PPI Auckland.

Pancasila sendiri resmi dideklarasikan sebagai dasar negara dan ideologi nasional pada tahun 1945. Pancasila juga tercantum dalam paragraf ke-4 pembukaan Undang-Undang Dasar 1945. Sejak saat itu, Pancasila selalu ditanamkan sebagai pedoman hidup bangsa Indonesia.

Serupa dengan itu, kami berharap “Triactus Scolasticus” dapat menjadi pedoman generasi penerus tanah air. Pedoman yang mengubah pemikiran kita tentang diri sendiri dan orang lain; menggelitik hati; dan mendorong kita untuk melakukan aksi-aksi kecil yang dampaknya tidak terbatas apabila dilakukan secara kolektif dan berkelanjutan.

Inilah sebuah pemikiran, tekad, dan cita-cita kami, pelajar Indonesia di Auckland. Mana pemikiran, tekad dan cita-citamu kawan?

Kontributor:

Zita Reyninta Sari

Masters of English – University of Auckland

Jannata Giwangkara

Masters of Energy – University of Auckland

Indonesia dari Kacamata Kang Emil

Ridwan Kamil sedang asyik diskusi dengan beberapa rekan PPI Auckland ketika saya menemuinya di sebuah restoran di bilangan Aotearoa, Auckland. Beberapa hari sebelumnya (Selasa, 4/4/2016) Walikota Bandung yang akrab dipanggil Kang Emil itu baru saja menerima penghargaan Prime Minister Fellowship dari PM John Key sebagai pemimpin inovatif di negara-negara ASEAN, menambah panjang daftar penghargaan internasional yang sudah ia terima sebelumnya. Selain agenda pertemuannya dengan John Key, Kang Emil juga menyempatkan diri untuk mengunjungi beberapa kota di North dan South Island untuk bertemu pengusaha-pengusaha dan Walikota setempat. Auckland adalah tujuan terakhir sebelum ia bertolak pulang ke Tanah Air Jum’at tengah malam (8/4/2016).

Sore itu pengurus PPI Auckland bersama dengan beberapa perwakilan Komunitas Indonesia Auckland (KIA) berkesempatan untuk ngobrol santai dengan Kang Emil tentang banyak hal, termasuk cerita bagaimana ia memulai karirnya di dunia politik.

“Saya terjun ke dunia politik setelah saya cukup mandiri”, kata Kang Emil.

“Saya membangun karir dulu, setelah cukup mandiri saya mulai terjun ke kegiatan sosial, baru kemudian mulai meniti karir politik. Kalau tidak, bisa susah nanti, kita jadi terlalu bergantung pada karir politik. Kalau saya, misalnya nantinya masih dipercaya untuk melanjutkan ya alhamdulilllah, kalau tidak, saya bisa kembali menekuni dunia profesional”.

Sebelum terpilih menjadi Walikota, Kang Emil lebih dikenal sebagai arsitek. Sosoknya sebagai seorang pemimpin muda mulai mendapatkan sorotan secara luas oleh masyarakat setelah ia menginisiasi gerakan Indonesia Berkebun. Saat ini akun Twitter gerakan ini, @IDBerkebun, sudah diikuti oleh lebih dari 149.000 followers, sementara kegiatan offline-nya sudah tersebar di sekitar 20 kota.

Saat ini Kang Emil menjadi sosok pemimpin muda yang cukup menonjol di Indonesia. Bahkan beberapa pihak mulai menggadang-gadang pria yang akrab di berbagai media sosial ini sebagai salah satu kandidat pemimpin nasional di masa depan.

“Generasi saya adalah perintis perubahan, generasi kalian lah yang nanti bertanggung jawab melanjutkan”, kata Kang Emil dengan raut muka serius.

Lantas, bagaimana visi Kang Emil tentang Indonesia? Apa saja hambatan terbesar kita saat ini? Dan bagaimana cara mengatasinya? Berikut petikan obrolan singkat PPI Auckland dengan Kang Emil.

Menurut Kang Emil, apa sih modal terbesar Indonesia untuk maju?

Kalau menurut saya semangat gotong royong-nya, disamping kekayaan sumber daya alam. Coba kalian perhatikan, kalau di luar negeri ketemu sesama dengan Indonesia rasanya cepat sekali akrabnya. Kita juga mudah untuk saling membantu dan bekerjasama. Ini saya buktikan sendiri waktu penyelenggaraan Konferensi Asia Afrika (KAA) di Bandung tahun 2014 lalu. Saat itu saya mengajak warga Bandung untuk menjadi relawan demi untuk mensukseskan acara ini. Ternyata responnya luar biasa, bahkan tak terbatas hanya warga Bandung saja. Banyak relawan yang datang dari luar kota seperti Jakarta, Bekasi, bahkan luar Jawa. Menurut saya ini modal yang penting sekali.

Lalu, apa sih masalah terbesar yang dihadapi oleh Indonesia saat ini?

Dari pengalaman saya selama 2 tahun menjadi Walikota, menurut saya masalah terbesar kita ada di mindset. Contohnya saja di Bandung. Mereka yang suka melakukan kejahatan bukan hanya orang-orang miskin, tapi orang kaya juga. Orang miskin di street crime-nya sementara orang kaya di white collars crimes, nggak bayar pajak. Bikin restoran nggak bayar pajak, nggak mengurus IMB sebelum bikin gedung. Yang kedua birokrasi. Banyak yang pola pikirnya sudah membatu sejak zaman dulu. Salah satunya korupsi. Sekarang ini kita memiliki terlalu banyak aturan yang justru menjerat diri kita sendiri. Membuat kinerja birokrasi menjadi terlalu lamban untuk bisa diajak maju.

Lalu, bagaimana strategi Kang Emil untuk mengatasi masalah ini?

Orang-orang seperti ini susah sekali berubah kalau hanya sekedar ditegur atau dinasehati. Nah, untuk menghadapi mereka, kita harus melakukan inovasi-inovasi di tingkat kebijakan. Misalnya saja dengan memanfaatkan kemajuan IT.  Di Bandung saya bikin aplikasi-aplikasi untuk memperingkas urusan birokasi dan juga memberantas  korupsi. Misalnya untuk urusan pendidikan, saya buat sistem online untuk pendaftaran sekolah. Sistem ini bisa menghentikan praktik-praktik jual beli bangku sekolah yang biasa terjadi zaman dulu. Kemudian untuk urusan pemerintahan, kita buat BIRMS (Bandung Integrated Resources Management System), yang terdiri dari e-budgeting, e-project planning, e-contracting, e-controlling, dan e-monev. Tujuannya adalah meminimalkan interaksi langsung antara warga dan petugas. Kita juga punya aplikasi untuk mengevaluasi kinerja pemerintahan sampai tingkat kelurahan. Warga bisa mendaftarkan diri dengan nomor KTP, kemudian memberikan laporan dan rating untuk lurahnya masing-masing.

Dengan berbagai langkah reformasi birokrasi selama 2 tahun ini, alhamdulillah Kota Bandung mendapatkan Penghargaan Akuntabilitas Kinerja Terbaik Nasional Tahun 2015 dengan predikat A, melompat dari sebelumnya ranking 400 menjadi ranking 1 di tingkat nasional.

Saat ini Kang Emil sedang giat mencanangkan Bandung menjadi Smart City.  Salah satu caranya adalah dengan mengembangkan lebih dari 1.000 aplikasi disertai berbagai inovasi kebijakan yang bertujuan untuk mengefisienkan birokrasi dan meningkatkan akuntabilitas pemerintahannya. Beberapa inovasinya cukup unik, misalnya baru-baru ini Kang Emil mengeluarkan kebijakan layanan antar dokumen kependudukan (KTP, KK, dll) ke rumah warga dengan kurir bermotor secara gratis.

Kalau menurut Kang Emil, apa modal terpenting yang harus kita miliki untuk mampu menciptakan perubahan di Indonesia?

Menurut saya, hal terpenting yang harus kita miliki untuk melakukan perubahan, khususnya di sektor public service, adalah kesabaran. Kadang nggak mudah untuk menghadapi berbagai kritik di saat saya sedang bekerja keras melakukan reformasi. Sebagai contoh, saya kerja dari jam 8 pagi sampai jam 10 malam, tapi ada orang yang mengatakan saya gagal melakukan reformasi birokrasi di Bandung. Padahal saat itu saya menjabat belum genap 2 tahun. Untuk menghadapi hal-hal semacam ini ya kita sabar saja. Lebih baik menjawab kritik dengan prestasi. Dan alhamdulillah, kritik-kritik seperti ini hilang dengan sendirinya setelah Kota Bandung mendapatkan penghargaan sebagai pemerintahan dengan kinerja terbaik di tingkat nasional. Kadang media juga tidak berimbang ketika membuat pemberitaan. Saat kritik muncul, liputannya muncul dimana-mana, tapi saat kami mendapatkan prestasi beritanya tak seheboh kritiknya. Menghadapi yang seperti ini ya kita kembali harus sabar.

Yang kedua, anak-anak muda seperti kalian juga harus mau menemani saya di birokrasi. Tentu saja sebelum itu kalian harus mandiri dulu. Jangan sampai begitu terjun ke dunia politik, kalian seperti tak punya pilihan lain, dan terlalu bergantung pada politik. Orang-orang yang hidupnya hanya bergantung pada politik cenderung akan melakukan apa saja demi untuk mempertahankan kekuasaannya.

Tapi ada juga yang bisa kalian mulai dari sekarang. Kan gini ya, ada empat hal yang bisa kita bagi; berbagi waktu, berbagi tenaga, berbagi harta, dan yang keempat berbagi gagasan. Untuk berbagi gagasan kan masalah jarak tak jadi masalah. Mau di Selandia Baru, maudi New York atau di manapun kalian bisa berbagi gagasan. Makanya saya bikin aplikasinya, iuran.id. iuran.id adalah platform seperti Facebook di mana orang yang punya gagasan bisa berbagi di sana. Karena saat ini saya sedang bekerja di Bandung, ya gagasan-gagasannya untuk memajukan Bandung. Nanti saya kumpulkan ide-ide itu. Kalau doable, saya eksekusi.

Terakhir saran saya, kalian perlu mulai membuat jaringan pertemanan di antara orang-orang yang idealis. Ini penting, dan nggak semua orang mau. Dengan cara-cara ini saya yakin kalian bisa berkontribusi untuk Indonesia.

 

Rekaman wawancara dengan Kang Emil dapat dilihat disini.


Reporter:

Moh Abdul Hakim

PhD student in Political Psychology, Massey University

hakimpsi@yahoo.com

Sumber foto:

Divisi Informasi dan Dokumentasi PPI

Waitangi Learning Day

Pada tanggal 7 Februari 2016, PPI Auckland menyelenggarakan Waitangi Learning Day dalam rangka memperingati hari Waitangi yang dirayakan setiap 6 Februari di Selandia Baru. Waitangi Learning Day dilaksanakan selama setengah hari, bertempat di The University of Auckland City Campus, dan dihadiri oleh pengurus dan anggota PPI Auckland serta warga Indonesia lain yang tinggal di Auckland.

Acara dimulai pukul 11.30 am dengan sambutan dari Wayan Linggawa selaku Presiden PPI Auckland 2016 dan dilanjutkan dengan pemutaran film berjudul “Boy”. Film ini adalah produksi asli Selandia Baru, disutradarai oleh Taika Waititi, tentang seorang anak bernama Alamein/”Boy” dan dinamika hubungannya dengan ayahnya yang baru saja kembali ke rumah mereka.

waitangild-1

Break time setelah nonton film.

Setelah itu, acara dilanjutkan dengan materi dan tanya jawab tentang the Treaty of Waitangi yang dibawakan oleh MA Hakim, PhD student dari Massey University. Materi ini meliputi sejarah singkat perjanjian Waitangi, kondisi Maori di Selandia Baru saat ini, dan kaitan perjanjian Waitangi dengan Sumpah Pemuda di Indonesia sebagai mitos pengikat bangsa.

waitangild-1

Diskusi santai yang dibawakan oleh MA Hakim

Acara ditutup dengan hadirin belajar menyanyikan lagu cinta berbahasa Maori berjudul “Pokarekare Ana”. Pukul 03.00 pm, acara selesai dan ditutup dengan foto bersama semua hadirin dan panitia.

waitangild-1

Foto bareng 🙂

Kontributor:

Lavinia Disa Winona Araminta

Master in Applied Linguistics, University of Auckland

Sumber foto:

Divisi Informasi dan Dokumentasi PPI

Diskusi Ramadhan: Gamis vs Sarung?

Menjadi Islam tak berarti menggunakan surban, gamis, ataupun berjanggut. Tapi tentu saja, pilihan untuk menggunakan dandanan seperti orang Arab tak dilarang. Demikian pula, menggunakan sarung adalah budaya yang sudah ada di Indonesia sejak entah kapan. Budaya-budaya lokal seperti ini adalah hal yang berbeda dengan ajaran Islam.

diskusiramadhan

Dalam Lingkar Diskusi Indonesia yang diselenggarakan Perhimpunan Pelajar Indonesia Auckland, Jumat (9 Juli 2015) di iSpace kampus University of Auckland, pengajar Fakultas Ushulluddin Universitas Islam Negeri Sunan Kalijaga Yogyakarta Ahmad Rafiq menegaskan, Islam adalah ajaran yang tumbuh dan menyebar ke berbagai budaya lokal, termasuk Arab dan Indonesia. Saat ‘bertemu’ dengan budaya lokal, Islam pun menyerap karakter budaya setempat. “Ketika Islam ada pada lokalitas yang berbeda, Islam bersandar pada tempat itu. Demikian juga, Islam disandarkan pada budaya Arab,” ujar Rafiq yang hadir dalam diskusi di sela-sela safari Ramadhan dengan Pengurus Cabang Istimewa NU Selandia Baru.

Serupa dengan perdebatan cara mengaji berlanggam jawa versus langgam arab. Menurut Rafiq, tak diketahui seperti apa cara mengaji dengan langgam arab. Sebab, cara mengaji yang kerap dianggap standar dan digunakan dalam Musabaqah Tilawatil Quran (MTQ) adalah adaptasi cara mengaji orang Persia oleh orang Mesir. Setelah direkam sekitar tahun 1960-an dan menyebar, cara mengaji ini dianggap standar. Ketika masuk suatu wilayah, tambah Rafiq, Quran bisa dibaca dengan lagu sesuai budaya lokal.

diskusiramadhan2

Dr Ahmad Rafiq

Rafiq yang juga Pengurus PCINU AS-Kanada ini menilai, perdebatan tentang mengaji dengan langgam jawa muncul ketika Presiden Joko Widodo mengundang seorang qori membacakan Quran di Istana Negara, kebetulan dengan langgam jawa, dan disiarkan secara nasional. Kenyataannya, qori tersebut sudah mengaji dengan langgam jawa jauh sejak sebelum itu, bahkan melakukannya di Masjidil Haram, tanpa mengundang perdebatan berkepanjangan. Karenanya, diperkirakan perdebatan ini muncul karena alasan politis dan etnisitas belaka.

Dalam diskusi, salah seorang mahasiswa Rizal mempertanyakan masalah qiraat dalam cara mengaji yang dinilai semestinya. Rafiq menjelaskan, kendati ada istilah qiraat dalam pembacaan Quran, tetapi qiraat adalah varian cara membaca Quran yang diakui para ulama, bukan lagunya. Adapun soal lagu atau langgam, tak ada rujukannya. Nagham yang selama ini dianggap langgam Arab pun sesungguhnya hanya adaptasi para umat Mesir dari langgam Persia yang direkam dan menyebar termasuk ke Indonesia. Karenanya, Rafiq mengatakan, perdebatan Islam Nusantara semestinya ada pada tataran cara berpikir (epistemologi), bukan di tataran materiil seperti budaya lokal. Masalah pribumisasi Islam secara epistemologi juga sudah pernah didiskusikan oleh Presiden keempat RI KH Abdurrahman Wahid, atau lebih dikenal dengan Gus Dur.

Diskusi di bulan Ramadhan ini diakhiri dengan buka puasa bersama.

Photo by Stefani Angelina

(Video) Islam Nusantara, Apa [apaan] tuh?

Diskusi Kamis (9 Juli 2015) ini bertema “Islam Nusantara, Apa [apaan] tuh? Pembicaranya ‘diimpor’ langsung dari tanah air, Pengajar Fakultas Ushulluddin Universitas Islam Negeri Sunan Kalijaga Yogyakarta Dr Ahmad Rafiq. Kebetulan Dr Ahmad Rafiq mengunjungi Selandia Baru dan Australia dalam bulan Ramadhan ini, jadi berbagilah dia dengan mahasiswa-mahasiswa yang haus diskusi di Auckland. Di akhir acara, buka puasa bersama membuat diskusi yang hangat menjadi gayeng.

 

Lingkar Diskusi Indonesia: Islam Nusantara, Apa(apa)an Tuh?

ldiposter-islamnusantara

Hi Aucklanders,

PPI Auckland akan mengadakan Lingkar Diskusi Indonesia (LDI) bertemakan “Islam Nusantara” yang sedang hangat-hangatnya diperbincangkan di tanah air. Dengan pembicara Dr. Ahmad Rafiq dari IAIN Sunan Kalijaga Jogjakarta, kita akan mendiskusikan bagaimana konsep Islam Nusantara dari kacamata Nahdlatul Ulama (NU) ini bisa diaplikasikan di Indonesia dan selaras dengan Bhinneka Tunggal Ika. Diskusi ini akan dimoderatori oleh Saudara Lutfi Prayogi, mahasiswa Master of Urban Planning University of Auckland.

Detail Acara sbb:

Tempat: iSpace, Level 4, Kate-Edgar Building, The University of Auckland, City Campus

Waktu: 15.30 – 19.30

Tanggal: Rabu, 9 Juli 2015

Setelah diskusi, acara akan dilanjutkan dengan buka bersama dengan konsep gotong royong (potluck)

Lingkar Diskusi Indonesia, Kunjungan Kerja DPR-RI Komisi VII

ldi5

Photo by: Fatthy Amir & Reggio Hartono

“Lingkar Diskusi Indonesia” or LDI is a discussion event in which we have special guests to be our speaker. It is PMPIA (Paguyuban Mahasiswa Pascasarjana Indonesia di Auckland)’s main event. PMPIA is an Indonesian Postgraduate Students Community in Auckland which is affiliated under PPIA. This time, we are very pleased and honoured to be given the opportunity to have some of the Indonesian House of Representatives (Anggota DPR) to be our speaker in this discussion or forum event.
Date & Time: Thursday, 15 May 2014 @ 4:50pm – 07:00pm
Location: Library Room Grand Central Apartment 26 Te Taou Crescent, Parnell, Auckland CBD

ldi1

Warmly greeting our guests – Photo by: Fatthy Amir & Reggio Hartono

ldi2

Proudly singing our national anthem, Indonesia Raya – Photo by: Fatthy Amir & Reggio Hartono

ldi7

The situation of the discussion – Photo by: Fatthy Amir & Reggio Hartono

ldi3

Mr. Satya Widya Yudha leads the discussion – Photo by: Fatthy Amir & Reggio Hartono

ldi4

Mr. Satya Widya Yudha & Our PPIA President, Tallulah Adjani sign the Mission Statement: A Declaration of Attitude – Photo by: Fatthy Amir & Reggio Hartono

ldi6

Photo by: Fatthy Amir & Reggio Hartono

More photos available here.