ts4

“Triactus Scolasticus”: Sepenggal Gagasan Utopis untuk Indonesia

Looking Back to Move Forward” adalah tema diskusi terbuka yang diselenggarakan oleh pasangan seniman Irwan Ahmett dan Tita Salina pada Kamis (26/5/16). Acara ini merupakan bagian dari serangkaian program fellowship ST PAUL St Gallery, AUT University, untuk Irwan dan Tita yang diadakan dari 22 April hingga 27 Mei 2016.

Dalam diskusi terbuka tersebut, tiga pembicara diundang sebagai presenter. Dua pembicara pertama adalah pelaku seni yang pernah terlibat di dalam aktivitas dengan ST PAUL St Gallery. Berbekal latar belakang etnis yang berbeda, dalam presentasinya, mereka berbagi pandangan dan pengalaman mengenai globalisasi dan konsep kosmopolis.

Tidak mau kalah dengan yang sebelumnya, perwakilan dari PPI Auckland juga berkesempatan menjadi presenter ketiga, lho. Digawangi oleh Wayan, Egi, Ghifar, dan Zita, kami hadir untuk menyuarakan hasil pemikiran dan konsep proyek seni kami: “Triactus Scolasticus” dan “Phosaic”. Kedua materi tersebut merupakan buah dari workshop yang diadakan PPI Auckland bersama Irwan dan Tita sebelumnya.

 

“Triactus Scolasticus”

Workshop yang diadakan pada Kamis (13/5/16) dua pekan sebelumnya tersebut bertemakan social creativity dan berjudul “The Art of Making a Change”. Dalam workshop tersebut, diskusi dimulai dengan membahas berbagai tantangan yang dihadapi oleh kota Auckland saat ini, dan kaitannya dengan globalisasi. Kami dan beberapa peserta lain ditantang untuk membangun sebuah konsep pemikiran, yang diharapkan akan berujung kepada cita-cita utopis bangsa Indonesia di masa depan. Tidak hanya sampai disitu, ide-ide tersebut juga kemudian diharapkan dapat diekspresikan dalam sebuah proyek seni.

ts1

Anggota PPI Auckland bersama Irwan Ahmett dan Tita Salina di dalam workshop ”The Art of Making Social Change”, 13 Mei 2016 di ST PAUL St Gallery, AUT University (foto: Ary Novianto)

Berangkat dari gagasan tersebut, kami sepakat untuk mengangkat topik yang berkaitan dengan globalisasi. Kami sadar bahwa globalisasi mengeliminasi batasan dalam berinteraksi secara global, serta menambah luas kanal informasi dan pengetahuan. Namun di sisi lain, globalisasi tanpa disadari juga menyuburkan perilaku konsumerisme, yang mengakibatkan semakin terpojoknya kelas pekerja. Oleh karena itu, sebuah prinsip yang teguh sepantasnya diperlukan bagi kita sebagai “agent of changes”, demi membawa perubahan yang lebih baik bagi tanah air.

Setelah proses brainstorming selama beberapa malam, perwakilan PPI Auckland kemudian menghasilkan tiga butir prinsip yang dinamakan “Triactus Scolasticus.” Slogan tersebut diadopsi dari Bahasa Sansekerta dan Latin. “Tri” berarti tiga, sedangkan “actus” adalah aksi. “Scolasticus” sendiri berarti pelajar. Penggabungan menjadi “Triactus Scolasticus” berarti “tiga aksi (dari) pelajar.” Selain itu, “triactus” dapat dipecah menjadi “tri” “act” dan “us”, atau “three ACTions from us.” Ketiga butir pemikiran itu adalah:

  1. Setiap individu memiliki kemampuan dan kesempatan yang sama dengan individu lainnya (Every individual possesses the capability and opportunity to achieve greatness)
  2. Keragaman yang dimiliki setiap individu menjadi pelengkap bagi individu lainnya untuk mencapai tujuan bersama (Common goal is accomplished by harnessing every individual uniqueness)
  3. Perubahan kecil yang dilakukan setiap individu dapat berdampak dalam skala yang tak terbatas (Small actions trigger changes on an infinite scale)

Ketiga butir prinsip tersebut adalah kristalisasi pemikiran kami sebagai bagian dari generasi penerus bangsa dalam era globalisasi. Ketiga pemikiran ini menjadi prinsip kunci yang diharapkan dapat ditanamkan dalam diri setiap insan Indonesia di mana pun mereka berada, kapan pun zamannya.

ts2

Representatif PPI Auckland ketika mempresentasikan “Triactus Scolasticus” dalam diskusi terbuka “Looking Back to Move Forward”, 26 Mei 2016 di ST PAUL St Gallery, AUT (foto: Lavinia Disa)

ts3

Representatif PPI Auckland dan kertas berisi coretan konsep “Triactus Scolasticus”. Dari kiri ke kanan: Ghifar, Wayan, Egi, Zita. (foto: Rara Sekar Larasati)

 

“Phosaic”

Sebagai manifestasi dari “Triactus Scolasticus”, kami juga merancang sebuah proyek seni yang kami sebut sebut “Phosaic”. “Phosaic” adalah gabungan dari kata “Phone” dan “Mosaic.” “Phosaic” kami rancang dalam bentuk sebuah playshop (bukan workshop, karena dasar dari kegiatan ini adalah fun). “Phosaic” di”main”kan dengan beberapa langkah. Langkah pertama, menentukan sebuah gambar dalam format digital kemudian dibagi menjadi beberapa potongan gambar kecil. Potongan-potongan gambar digital tersebut kemudian dikirimkan ke perangkat mobile para perserta. Langkah selanjutnya, adalah merangkai perangkat mobile, layar demi layar, untuk menunjukan satu kesatuan gambar yang sebelumnya telah dibagi.

Dalam kesempatan presentasi di ST PAUL St Gallery, tidak lupa kami mengundang hadirin yang datang untuk berpartisipasi dalam proyek seni ini. “Phosaic” pun diselenggarakan pada Sabtu (28/5) pukul 2 siang di Wynyard Quarter, atau yang Aucklanders lebih kenal dengan sebutan Viaduct. Dua belas orang termasuk kami datang untuk berpartisipasi. Peserta tidak hanya berasal dari Indonesia, tapi juga Selandia Baru, Iran, dan Thailand. Tidak lupa sesi tersebut kami rekam dalam video.

ts4

“Phone mosaic” yang menampilkan peta Selandia Baru saat disatukan. (foto: Ary Novianto)

ts5

Peserta Phosaic dari beragam kewarganegaraan. (foto: Ary Novianto)

Selain sebagai perwujudan aksi dari butir ketiga “Triactus Scolasticus”, kegiatan “Phosaic” sendiri ditujukan untuk menyinggung beberapa isu, yaitu: Auckland sebagai rumah sementara kami, para temporary migrants; kemajemukan masyarakat Auckland; kolektivisme dan kolaborasi antara keragaman individu; serta pemanfaatan teknologi sebagai media dalam berkarya seni.

 

Memperingati Kelahiran Pancasila, 1 Juni

“Triactus Scolasticus” dan rekaman sesi “Phosaic” dirilis pada hari Rabu, 1 Juni 2016, bertepatan dengan hari kelahiran Pancasila. Peluncuran ini akan diadakan di semua kanal media sosial PPI Auckland.

Pancasila sendiri resmi dideklarasikan sebagai dasar negara dan ideologi nasional pada tahun 1945. Pancasila juga tercantum dalam paragraf ke-4 pembukaan Undang-Undang Dasar 1945. Sejak saat itu, Pancasila selalu ditanamkan sebagai pedoman hidup bangsa Indonesia.

Serupa dengan itu, kami berharap “Triactus Scolasticus” dapat menjadi pedoman generasi penerus tanah air. Pedoman yang mengubah pemikiran kita tentang diri sendiri dan orang lain; menggelitik hati; dan mendorong kita untuk melakukan aksi-aksi kecil yang dampaknya tidak terbatas apabila dilakukan secara kolektif dan berkelanjutan.

Inilah sebuah pemikiran, tekad, dan cita-cita kami, pelajar Indonesia di Auckland. Mana pemikiran, tekad dan cita-citamu kawan?

Kontributor:

Zita Reyninta Sari

Masters of English – University of Auckland

Jannata Giwangkara

Masters of Energy – University of Auckland

0 replies

Leave a Reply

Want to join the discussion?
Feel free to contribute!

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *